Minggu, 31 Maret 2013

Lompat Kapal Kejar Sisik - Festival Erau 1



FESTIVAL ERAU 

Digelar dengan tema berbeda tapi makna senada, Festival Erau diwarnai acara tambahan berupa seminar kebudayaan nasional dan kehadiran para sineas. Erau dan Kutai akan difilmkan?

Matahari menyiram sinarnya dengan keras di kawasan Tanjung Batu, Kutai Lama. Pada saat bersamaan, angin berembus keras, menggulirkan ombak cukup keras di persimpangan sungai Mahakam itu. Beras kuning dan air jernih dari sungai telah disiapkan oleh ibu-ibu pemuka adat. Kelak beras kuning itu akan ditebarkan ke tamu adat yang akan datang, tak lain dari rombongan Putera Mahkota Keraton Kutai Kartanegara HAP Adipati Prabu Anuem Surya Adiningrat. Seperti halnya air yang akan dipercik-percikan. Prabu Anum memang telah datang. Rombongannya menggunakan dua speedboat yang melaju dari dermaga di depan Museum Mulawarman, Tenggarong. Tapi puncak acara dari rangkaian penutupan Festival Erau 1-8 Juli lalu adalah upacara Mengulur Naga, di mana ada sepasang naga yang berlayar dengan kapal dari Tenggarong untuk ditenggelamkan/dilaboh di sungai Kutai Lama.

Ritual Ngulur Naga membutuhkan dua ekor naga, yaitu Naga laki dan Naga Bini. Setiap naga terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah kepala, yang terbuat dari kayu dengan hiasan sisik warna-warni dan sebuah ketopong (mahkota). Bagian kedua adalah leher yang dihiasi kalung dan kain berumbai-rumbai berwarna-warni, disambungkan dengan badan yang terbuat dari rotan dan bambu dan dibungkus kain berwarna kuning dan dihiasi sisik-sisik berwarna-warni. Badan ini dibuat lima lekukan yang memperlihatkan seolah-olah naga sedang berjalan. Bagian ketiga adalah ekor yang terbuat dari kayu. Selama tujuh hari tujuh malam kedua ekor naga tersebut disemayamkan di serambi keraton kesultanan. Naga Laki disemayamkan di serambi kanan dan Naga Bini di serambi kiri, sedangkan di bawah masing-masing dipasang peduduk lengkap beserta isinya. Selain itu dibuat titian yang disebut Rangga Titi yang dihamparkan kain berwarna kuning sebagai jalan ketika naga akan dibawa keluar dari keraton menuju sungai Mahakam ketika ritual Mengulur Naga berlangsung.

Dan pagi itu, 8 Juli, bertempat di keraton kesultanan, Tenggarong, dihadiri Sultan Kutai Kartanegara H aji Muhammad Salehuddin II, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, S.Sos, MM dan undangan lainnya, para Dewa dan Belian memberi jamuan dan Besawai sebagai tanda bahwa naga siap untuk diturunkan. Berikutnya sebanyak 17 laki-laki berbusana celana panjang batik, baju Cina lengan panjang berwarna putih, sarung diikatkan di pinggang dan mengikatkan kain Pesapu (kain batik) di kepala, mulai mengangkat naga menuruni titian menuju sungai Mahakam. Sementara itu, Dewa dan Belian berjalan di bagian depan sambil membawa perapen. Selain Dewa dan Belian, dalam perjalanan ke sungai Mahakam, naga juga diiringi oleh empat orang Pangkon Laki dan Bini serta seorang membawa seorang pembawa guci (molo) untuk mengambil Air Tuli.

Di atas kapal, kedua ekor naga ditempatkan di sisi kanan dan kiri kapal dengan posisi kepala naga menghadap ke haluan. Kapal kemudian bertolak menuju Kepala Benua, lalu berputar sebanyak tiga kali dan menuju hilir sungai. Ketika melewati daerah Pamerangan di desa Jembayan, Loa Kulu, kecepatan kapal diperlambat, alunan gamelan dibunyikan, Dewa dan Belain melakukan Memang sebagai tanda pemberitahuan kepada seluruh mahluk gaib di sekitar Pamerangan bahwa naga sedang diturunkan menuju Tepian Batu, Kutai Lama. Dalam sejarahnya, Pamerangan pernah menjadi ibukota kerajaan sebelum akhirnya dipindahkan ke Tenggarong. Perjalanan kapal belum selesai, karena di Tepian Aji, Samarinda Seberang, digelar ritual penyambutan yang melibatkan berbagai tokoh dari etnis Bugis.

Dan akhirnya sekitar pukul dua siang, dari bibir Tepian Batu, Kutai Lama tampaklah kapal pembawa sepasang naga itu. Kapal berputar tiga kali di perairan di hadapan Tepian batu. Sebelum naga diturunkan/dilaboh, pada bagian kalung dan ekor naga disembelih/dipotong terlebih dahulu. Bagian kepala dan ekor ini kemudian dibawa ke Tenggarong untuk disemayamkan untuk acara Mengulur Naga di masa mendatang. Pada saat prosesi ini dilakukan, Air Tuli diambil untuk Belimbur.

Namun praktiknya di lapangan tidaklah sesederhana itu, karena sejak dua jam sebelum kapal tiba, masyarakat telah berkerumun di Tepian Batu. Bukan hanya di darat, melainkan di sungai. Ya, puluhan kapal bermotor dari berbagai ukuran telah hilir mudik di sungai, berputar-putar atau diam menanti. Menanti kedatangan sepasang naga.

Dan usai putaran ketiga, pemandangan yang dramatis pun terjadi. Badan naga yang dipotong-potong dilepas masuk ke sungai. Sontak berbagai kapal merapat ke sekitar kapal pembawa naga. Beruntunglah bagi kapal kecil, bisa cepat menyelip di sela-sela kapal besar. Pemandangan seperti di film-film bajak laut, di mana para penghuni kapal bisa berlarian dan berloncatan untuk merebut sisik-sisik dari tubuh naga yang akan tenggelam itu. Masyarakat di situ umumnya meyakini akan khasiat sisik tersebut untuk mencapai tujuan tertentu, lazimnya keberuntungan. Tentu saja, begitu kapal kembali ke Tenggarong, pada setiap kampong yang dilalui oleh kapal melakukan Belimbur missal alias saling menyiram air sebagai ungkapan rasa syukur dan membuang hal-hal jahat melalui air. Namun perkara Belimbur sebenarnya tidak perlu menunggu selama itu, karena begitu kapal meninggalkan Tenggarong di pagi harinya, warga Tenggarong tidak bisa ditahan lagi untuk saling menyiram. Dan hukum adat melarang warga untuk marah bila disiram, meski telah basah kuyup.

Teks & foto: Gegen



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar