Selasa, 23 Agustus 2011

Bumi dan Masa Depan: Catatan untuk Sinyo, Azahra dan Para Sahabat


PERTAMA NASIB BUMI: BISAKAH BERTAHAN HINGGA AKHIR ABAD?
Beberapa waktu lalu digelar sebuah seminar yang dihadiri para pengamat sosial, ilmuwan dan akademisi serta para tokoh agama. Salah satu pembicaranya adalah Rektor UI, Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri. Pada sesinya, beliau bercerita dan memaparkan hasil diskusinya pada seminar-seminar internasional lainnya yang melibatkan ahli-ahli lingkungan sedunia. Salah satu pertanyaan besar yang mereka diskusikan adalah: Dapatkah bumi bertahan hingga akhir abad ini? 

Salah satu persoalan adalah pertumbuhan penduduk. Ini bukan persoalan sederhana. Kalau penduduk bertambah, berarti mesti ada tambahan lahan sebagai ruang hidup dan lingkungan yang layak. Mesti ada pertumbuhan pangan, sarana transportasi, fasilitas kesehatan hingga pendidikan. Dan mesti ada lebih banyak energi yang dikerahkan dari sumber-sumber energi. Entah minyak, batubara hingga energi alternatif lainnya. Artinya, kita juga mesti mengekstensifikasi eksplorasi terhadap sumber-sumber energi fosil yang tidak bisa diperbaharui itu dan menghisapnya sampai habis 50 tahun nanti. Sambil berpacu menemukan dan mengembangkan energi-energi alternatif lainnya. 

Nuklir telah ditemukan sebagai alternatif. Nuklir bisa menghasilkan listrik. Tapi di sisi lain menjadi senjata pemusnah massal. Namun meski digunakan untuk kepentingan damai, limbah nuklir jadi persoalan. Dan semakin banyak mencemari bumi. Nuklir sebagai senjata tentu punya efek lingkungan yang besar. Jangan lupa, sebelum digunakan untuk perang, mengakhiri Perang Dunia II misalnya, senjata nuklir terlebih dahulu diuji coba. Baik di permukaan, di dalam laut, hingga bawah laut –yang termasuk bisa mematahkan hingga menggeser lempeng-lempeng bumi dan menimbulkan efek yang kita katakan sebagai tsunami. Hingga kini, berbagai negara pemegang “lisensi” senjata nuklir terus melakukan uji coba. Kerusakan lingkungan semakin parah. Tak bisa dicegah, melainkan hanya bisa diperlambat lajunya. 

Kampung-kampung di pelosok Bukittingi, Bangka Belitung, Singkawang, Gowa, Bone, Soppeng, Wajo, Pinrang, Tomohon, Tondano, Ternate, Tidore, Kei, pulau-pulau di Maluku sepertinya aman tenteram melalui senyum para penari Pakarena. Tercermin di wajah para nelayan penangkap ikan tuna segar. Tergambar di pohon-pohon purba dan gugus nyiur hijau yang selalu melambai. Tapi semua itu sekonyong-konyong bisa tersapu layu dalam awan nuklir yang merembes kemana-mana. 
Sebelum berbicara perang, kita kembali ke persoalan pertumbuhan penduduk, yang akan memberi tekanan besar ke aspek lingkungan. Deforestrasi, misalnya. Penebangan liar, pembakaran lahan hingga penggundulan hutan adalah contohnya. Hingga penggunaan bom untuk menangkap ikan di laut. Tuntutan akan kebutuhan pangan akan semakin naik, sementara lahan pertanian segitu-segitu juga –kecuali menggunduli kawasan hutan. Banjir di wilayah hilir cuma salah satu akibatnya. Polisi akan semakin kucing-kucingan dengan para penebang liar, mafia ilegal logging, bahkan di dalam sistemnya sendiri. Seperti halnya dengan penyelundup pasir untuk merekayasa tambahan lahan negeri lain. Sementara, generasi sekarang lebih suka menjual sawahnya untuk membeli sepeda motor dan mereka jadikan ojek, ketimbang bekerja di sawah ladang. Mereka lebih senang mendapatkan uang instan setiap hari ketimbang menunggu panen dari sawah ladang. Pola hidup berubah. Konsumerisme semakin tak terhindarkan. 

Dalam jangka panjang, ditambah polusi berbagai industri dan transportasi, efek rumah kaca semakin terasa. Sebuah titik di atmosfir kita sudah bolong. Pemanasan global dan penyakit kanker kulit atas serangan matahari semakin tak terhindarkan. Menurut laporan PBB, penghasil terbesar gas rumah kaca adalah industri peternakan (18%). Sedangkan transportasi di seluruh dunia menyumbang 13%. Emisi gas rumah kaca industri peternakan meliputi 9 % karbon dioksida, 37 % gas metana (efek pemanasannya 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam 20 tahun), 65 % dinitrogen oksida (efek pemanasan 296 kali lebih kuat dari CO2), serta 64 % amonia penyebab hujan asam. 

Penelitian menemukan hubungan yang dekat antara kenaikan air laut yang terus-menerus dengan jumlah CO2 di atmosfer. Dan, seandainya tidak ada kenaikan level CO2, tetap seperti hari ini pun, laut akan terus naik setinggi 25 meter dalam dua milenium ke depan. Yang jelas, perobahan iklim sudah terjadi. Pemanasan global sudah di depan mata. Kenaikan suhu 1-3 derajat saja sudah cukup membuat hewan-hewan di kutub dan Antartika belingsatan tak karuan. Bila suhu naik 4 derajat, maka peta dunia berobah, karena banyak kota-kota pesisir di dunia tergenang air laut.

Artinya, persediaan air tawar juga berkurang. Terjadi migrasi penduduk besar-besaran. Kenaikan enam derajat rasanya tidak mungkin untuk hidup, karena banyak gas metana yang keluar dan rentan terbakar. Sama dengan hidup di lereng gunung api. Yang jelas, perobahan iklim ini sudah terjadi. Musim panas dewasa ini di Eropa ada gelombang panas, yang memengaruhi kesehatan, khususnya manula. Saat bersamaan, ada kesaksian seorang teman yang tinggal di Moscow, di mana seharusnya Rusia sedang musim panas. Tapi beberapa wilayah di Rusia malah diterjang badai salju. Ia menulis dengan nada berteriak-teriak di emailnya --maaf serasa menyeisipkan kalimat, "...ini kiamat, kiamat". 

Di India, sebuah pulau sangat kecil bernama Lohachara yang terletak di Hoogly River, di kawasan Teluk Bengal, telah terhapus dari peta pada tahun 1980-an. Penyebabnya, erosi pantai, siklon, rob, rusaknya mangrove dan kenaikan muka air laut. Lebih dari 6.000 orang diungsikan. Kampung halaman dan kehidupan mereka tinggal kenangan yang menjauh dari pelupuk mata. 

Perobahan iklim ini sangat mengerikan. Dan waktu kita sangat pendek untuk bertindak. Menurut para ahli, perobahan iklim membawa konsekuensi menuju kiris pangan, yang mesti segera diwaspadai. Ya, bagaimana tidak? Musim tanam kacau. Panen kacau pula. Di Indonesia mulai terasa.

Di luar persoalan iklim, di perkotaan ada persoalan lain. Tekanan dari persaingan hidup, pengangguran dan pola hidup yang konsumtif telah mendorong kenaikan tingkat kriminalitas. Pembunuhan merajalela, dalam berbagai modus. Persoalan lain muncul. Penyakit-penyakit datang silih berganti, baik yang lama maupun baru. Baik karena sebab alam maupun ulah manusia. AIDS belum lagi bisa ditanggulangi tuntas, muncul berbagai macam varian flu, SARS hingga flu babi (Swine influenza). Depkes RI belum perlu menganggap flu yang disebabkan virus subtipe A H1N1 ini sebagai kejadian luar biasa. Menurut menteri, ada flu lain yang lebih mematikan. Kelak kita melihat, apakah ada “flu” lain yang akan muncul atau berhenti di situ. Yang jelas, wabah-wabah juga muncul di berbagai belahan dunia dari berbagai sebab. Atau dengan sebab yang belum diketahui. Belum lagi narkoba, berhala baru yang sangat rumit diperangi. Jangan disepelekan, persoalan broken home dan keretakan dalam rumah tangga ikut memicunya.

Kesimpulan para ahli: Bumi sulit bertahan hingga akhir abad ini.

KEDUA MASYARAKAT YANG SAKIT: KEBODOHAN DAN KETIDAKPEDULIAN
Kita memang tidak tinggal diam. Kita mencari pemecahan masalah-masalah tadi. Baik pengendalian ledakan penduduk, ekstensifikasi dan intensifikasi lahan, teknologi pangan, kampanye pengganti daging dan susu, eksplorasi sumber-sumber energi baru dan pengembangan energi alternatif, pengembangan kendaraan hibrida dan listrik sebagai pengganti mesin internal combustion, menggalakkan penanaman bakau, penghijauan kembali, penemuan obat dan vaksin-vaksin baru, hingga meningkatkan kekuatan dan sistem keamanan. Hanya, energi dan ikhtiar kita disabot oleh hiruk-pikuk perebutan kekuasaan, terorisme, kerusuhan hingga perang. Sementara banyak pemimpin dunia ikut terbawa arus peradaban yang cenderung disetir ekonomi makro dunia. Dan juga sibuk dengan kekuasaan, publikasi, narsisme gaya baru dan seremoni.

Dan begitulah masyarakat kita yang sakit, lebih senang jual sawah beli sepeda motor ketimbang tunggu hasil panen. Lebih senang menikmati tontonan-tontonan sampah yang semakin banyak --yang dikemas apik oleh para produser, termasuk infotainment yang sibuk menjual hura-hara rumah tangga orang lain. Juga semakin banyaknya kendaraan di jalan raya dan mal yang dbangun, sebagai simbol keberhasilan pembangunan materi. Jalan raya dan gedung-gedung semakin banyak dibangun, menggantikan lahan hijau. Itulah paradigma dari kesuksesan peradaban. Sayangnya, pada saat bersamaan banyak bangunan sekolah yang roboh.

Sementara, pembangunan mental dan ideologi bukanlah hal penting lagi. Apalagi agama, yang banyak dimanfaatkan sebagai simbol-simbol politik dan kekuasaan. Tidak pernah digunakan sebagai sandaran utama. Konsumerisme sulit dilawan –dan narkoba menyisip dengan nyaman di sela-selanya. Blackberry atau Tablet Android lebih kuat dari ideologi negara dalam praktiknya. Berhala-berhala baru selalu muncul sesuai zamannya. Demikian pula nabi-nabi palsu. Seperti halnya tuhan-tuhan palsu. Yang diagung-agungkan dan dipuji-puji oleh orang-orang banyak. Lihat saja Hitler yang dieluk-elukkan rakyatnya. Sejarah kemudian menempatkan Hitler sebagai penjahat perang. Tapi sebelum PD II berlangsung dan berakhir, seandainya kita adalah warga Jerman saat itu, kita mungkin ikut bertepuk tangan dan mengeluk-elukkan Hitler sebagai pemimpin. Jadi, hati-hati dengan filosofi provokatif “ikut orang banyak”. Kebodohan harus diperangi dan pembodohan harus dilawan. 

Masalahnya, orang semakin tidak peduli, termasuk terhadap dirinya, tidak mau berpikir apa yang sebenarnya terjadi.

Ramadan itu bukan cuma puasa. Tapi yang terjadi malah sibuk dengan berbagai undangan buka puasa dan kejar THR --bahkan korupsi demi THR. Padahal ada sholat tarawih yang tidak bisa ditinggalkan. Itu satu paket. Makanya tidak ada sholat tarawih di bulan lain. Zakat juga harus dibayar di penghujung Ramadan, sebagai tanda penyerahan diri untuk disucikan. Setelah itu berpuasalah 6 hari di bulan Syawal, sebagai simbol perjuangan berpuasa selamanya. Bayar pula qodo Ramadan kita di bulan ini. Qodo Ramadan hanya berlaku di bulan Syawal, tidak sesudahnya.

Rajab itu bulan Allah, Sya’ban itu bulan Muhammad, Ramadan itu bulan umat Rasulullah. Maka barangsiapa telah disucikan pada bulan Ramadan, boleh berjumpa dengan Tuhan pada bulan Zulhijah, saat “gerbang” dibuka –dimana berlaku syarat dan rukun Haji. Kenyataannya, banyak orang pergi Haji atau Umroh mengabaikan kaidah-kaidah itu: apa gunanya pergi Haji atau Umroh bila tak disucikan? Bertemukah dengan Tuhan? Padahal, bukankah itu tujuannya pergi Haji atau Umroh? 

Tapi isyarat itu sudah disampaikan oleh Beliau jauh hari, bahwa pada akhir zaman orang pergi Haji atau Umroh hanya untuk tamasya, orang kaya untuk berniaga, orang miskin untuk meminta-minta. Lihat saja bagasi bawaan jamaah di bandara King Abdul Aziz, Jeddah saat pulang, tak sedikit yang menggendong barang dagangan ke kampung halaman. Begitu banyak yang melakukannya. Dan itu terjadi sekarang.

Itu akibat tidak peduli pada diri sendiri dengan tidak mau berpikir apa hakikat-hakikat kehidupan beragama.

KETIGA AKHIR ZAMAN: KEYAKINAN TELAH LUNTUR
Azahra & Mahdani, kita sudah diberitahu orang tua kita tentang tanda-tanda akhir zaman. Bahkan Junjungan kita telah melansir tanda-tanda itu 1.500 tahun lalu. Kini, badai, banjir dan air bah, gempa dan longsor hingga kebakaran saling susul-menyusul. Semburan gas bercampur lumpur dari dalam bumi bukan hanya di daerah tambang mineral, tetapi sekonyong-konyong bisa muncul di mana saja. Unsur-unsur pembentuk kejadian manusia tadi sudah mengamuk: angin dengan badai topan, air dengan banjir, tanah dengan longsor dan gempa, api dengan letupan dan kebakaran. 

Hari ini kita lihat manusia semakin cerdas. Apa yang dipikirnya, bisa jadi kenyataan. 15 tahun lalu, ketika petama kali membeli ponsel, mungkin kita tidak membayangkan bahwa dalam satu dekade saja di dalam ponsel akan ada musik, kamera, video, perpindahan data tanpa kabel, video call, peta hingga alat pelacak berbasis GPS hingga munculnya tablet android. Kini, tiap hari ada ponsel baru. Tapi sayangnya, ilmu pengetahuan dihilangkan. Maksudnya; pengetahuan tentang “ilmu” yang hilang. Ilmu artinya “yang tahu”. Itulah ruh. Tak banyak lagi yang paham. Agama lebih banyak tersisa pada seremoni, berbaju koko saat Lebaran. Idul Fitri hanya ditunjukkan dengan berpakaian bagus dan makan yang sedap-sedap, seperti halnya ciri-ciri orang jahil.

Sayangnya memang, sedikit yang sadar bahwa yang digunakan dalam bahasa di kitab-kitab suci adalah bahasa ruh. Bukan bahasa fisik. Akibatnya, pemahaman banyak yang jauh dari yang dimaksud sebenarnya. Di akhir zaman, banyak hal menjadi terjungkir balik. Laki-laki jadi perempuan, perempuan jadi laki-laki. Matahari terbit dari barat, meski itu cuma kias. Sebenarnya, hukum alam dari Tuhan telah menentukan rotasi bumi. Itu kias bahwa begitu banyak hal yang jungkir balik. Begitu banyak hal lain yang disembah dan dijunjung selain Allah & Rasul-Nya. Orang mengaku bertuhan, tapi beragama hanya dari pakaian; ber-Lebaran, membentuk pengajian, tapi sekaligus meminta kekuatan dan restu ke makam-makam hingga keris-keris. Pemahaman dan keyakinan akan Tuhan yang Mahaesa telah luntur. Bersaing dengan berhala-berhala baru dan atheisme dalam bentuk baru. 

Pangkal dari banyak krisis adalah krisis ahlak. Tidak menempatkan keyakinan beragama sebagai sandaran. Dalam praktiknya, agama juga tidak penting. Di negeri kita lebih parah lagi, dana untuk urusan Haji pun dikorup. Dan menurut data pengamat korupsi, Departemen Agama RI menduduki rangking 1 dalam korupsi di pemerintahan. Para penguasa mencari jalan memakai dana negara untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Bahkan para pejabat publik bergegas mencari upeti yang berseliweran menjelang apa yang mereka sebut pesta demokrasi hingga Idul Fitri, hari suci pemeluk agama Islam. Terakhir, Beliau bilang, pembunuhan semakin menjadi-jadi. Kekerasan dan kegilaan dalam rumah tangga menjadi tontonan sehari-hari. Ahlak manusia tidak bisa diperbaiki lagi.

KEEMPAT PERJUANGAN: KAMI DENGAR KAMI TAAT
Sesuai petunjuk, Mahdani lahir hari Jum’at. Sebelum dokter mengata. Jum’at adalah hari kerasulan. Maka khutbah Jum’at harus membicarakan Rasulullah. Tapi karena banyak yang tidak paham dan tidak punya pengetahuan tentang siapa Rasul sebenarnya, khotbah Jum’at banyak berisi orasi sosial-politik. Maka kalian jangan heran kalau Papa terkadang sholat Dzuhur lagi usai Jumatan. Ingat, dunia pun tidak akan dikiamatkan, melainkan hari Jum’at. Sementara Azahra lahir hari Senin, sesuai petunjuk. Senin adalah hari kelahiran Nabi. Wadah dari kerasulan Muhammad SAW. Subhanallah. Alhamdulillah. Tidak satupun dari kalian yang Papa beri nama sendiri. Semua nama diberikan dari petunjuk Beliau. Hanya, Papa diperkenankan memakai nama keluarga di bagian belakang. Sebagai pengingat kehidupan kampung halaman dunia. 

Dunia yang akan kita setelah ini akan sangat berat. Bukan hanya persoalan kecenderungan kerusakan lingkungan dan kehancuran sosial, tapi juga soal keyakinan. Agama akan menjadi hal yang asing, sebagaimana awal munculnya. Tinggal papan nama atau tercantum di KTP. Sebenarnya, memang tidak banyak yang paham. Dan memang begitu sejak awal sejarah manusia, hanya sedikit yang paham. Ibu moyang kita, Siti Hawa, 14 kali melahirkan anak kembar, selalu kembar laki-laki dan perempuan. Setelah itu barulah melahirkan putra seorang. Namanya Sis. Dari semua anak-anak Adam, hanya Sis yang paham apa yang dimaksud oleh ayahnya dalam pelajaran agama. Sis inilah nabi setelah Adam. 
Sejalan waktu muncullah kaum-kaum. Banyak yang tidak paham agama, tidak mau paham, atau juga ingkar. Orang yang paham ada, tapi sedikit. Merekalah para nabi dan wali. Sepanjang umur dunia, jumlah mereka sudah tercetak pada perahu Nabi Nuh. Ciri-ciri mereka, mampu menjelaskan sesuatu tanpa buku. Tidak pula belajar dari buku. Jelaslah. Mana  pernah kita melihat Musa, Daud, Isa hingga Muhammad mengajar agama sambil menenteng-nenteng dan membuka-buka buku? Justru perkataan mereka itulah yang ditulis dan disalin menjadi kitab agama. 


Kepribadian mereka halus, teguh dan bijak. Mereka juga tidak menerima uang atas apa yang mereka sampaikan. Dalam hidup kita, marilah kita cari orang-orang dengan ciri seperti ini. Semoga kita bertemu. Nabi Muhammad SAW telah wafat dan disemayamkan di Madinah, Papa sudah lihat makam Beliau. Tidak ada lagi nabi sesudah Beliau. Tapi ruh-Nya menunggu kita di "Tempat Sujud yang Mulia" --diterjemahkan ke bahasa Arab Islam menjadi "Masjidil Haram", memberi bimbingan kepada orang-orang yang dikehendakinya. Itulah qadar bagi yang menerimanya. Kenapa dikatakan Makkah Al-Mukkaromah dan Madinah Al-Munawaroh? Kapan-kapan kita kupas soal ini.  

Yang jelas, banyak yang Beliau diwariskan, yang mesti kita serap dan kaji dengan hati jernih. Di akhir zaman, masih tersisa sedikit orang-orang yang paham agama, walau semakin berkurang. Tapi mereka akan tampak dengan bendera yang berkibar melawan angin. Banyak yang melihat mereka dengan rasa tidak suka yang tidak beralasan. Karena mereka tidak mau ikut arus. Tidak tampil dalam orasi-orasi di media dan televisi. Tidak popular. Padahal, apa yang mereka sampaikan masuk akal dan tidak bisa dibantah. Lagi sesuai dengan apa yang disampaikan Nabi Muhammad SAW 15 abad lalu. Persis. 

Jadi, berhati-hatilah dalam sebuah “kerumunan” mayoritas; mendengarkan apa yang orang lain katakan tanpa mengkajinya. Kita harus punya pendirian berdasarkan kajian yang jernih --meski mungkin orang-orang mengabaikan suara kita. Pameo “suara mayoritas adalah suara Tuhan” bukannya salah, tapi senantiasa lebih dikaitkan dengan konteks kekuasaan. Itu bukan paham yang salah, tapi keliru. Karena bertentangan dengan kaidah bahwa suara utusan Tuhanlah yang merupakan pancaran dari suara Tuhan. Itu yang benar. Utusan Tuhan --bila diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi Rasul Allah, bukan? Yang jelas, Utusan Tuhan cuma segelintir, bukan berjuta-juta dari masyarakat suatu negeri. Tapi ketika kita menjelaskan hal ini, mereka enggan memahaminya. Atau marah karena merasa benar sebagai pendapat terbanyak. Siap-siaplah dicerca, dijauhi dan difitnah. Lihat saja contoh paling sederhana di negeri kita, bagaimana orang sekampung memusuhi sebuah keluarga yang anaknya tidak memberi contekan ujian akhir. Astagfirullah!

Dunia sudah terjungkir balik.    

Kita telah menerima pelajaran --dalam banyak agama-- bahwa manusia senantiasa mencari jalan memiliki klaim agama untuk kepentingan kekuasaan. Kalau memang benar secara absolut suara mayoritas adalah suara Tuhan, bagaimana dengan rakyat Soddom dan Gomoroh? Apa suara mereka? Itulah keyakinan mereka. Nyatanya: Dihancurkan.

Dihancurkan. Habis.

Kaji kembali, apa memang benar Tuhan yang mengangkat Firaun, Gengis Khan hingga Hitler?

Nuh dibenci, Luth dibenci, Muhammad dibenci. Tanpa punya pengetahuan siapa sebenarnya Muhammad SAW dan apa hubungannya dengan seluruh umat manusia. 

Kenapa salah satu putra Nuh tidak mau ikut naik ke kapal? Malah memanjat gunung, lalu tenggelam. Kenapa istri Luth menentang larangan suaminya saat meninggalkan Soddom? Malah menoleh belakang dan jadi tiang garam.

Sejarah mencatat bahwa banyak orang tidak tahu bahwa seseorang di lingkungannya adalah utusan Tuhan. Anak Nuh tidak tahu bahwa bapaknya nabi. Istri Luth tidak tahu bahwa suaminya nabi. Sampai ajalnya, Abi Thalib tetap tidak mau mengakui bahwa kemenakannya adalah Utusan Tuhan, Rasulullah. Banyak orang terkecoh, karena penampilan para utusan Tuhan ini sama dengan kita secara keseharian. Yang membedakan, "pancaran" dari apa yang mereka ucapkan. 

Dan orang-orang yang ikut para utusan itu adalah mereka yang mau berpikir –sebagaimana telah diingatkan 188 kali dalam Al Qur'an. Nah, kalau suatu hari terjadi, kita dianggap minoritas, tidak apa-apa. 

Tapi jangan jual keyakinan akan Tuhan. Jangan ikuti para “nabi palsu”, “tuhan palsu” dan “berhala-berhala baru”. Berdirilah berseberangan dengan para pengikut mereka. Kita tidak bisa lagi mengangkat pedang sepeti pendahulu kita berabad-abad lampau. Situasi dunia sudah berbeda. Namun tarik garis bahwa kita berseberangan dengan mereka. Tapi jangan pula terkecoh dengan orang-orang yang melakukan kekerasan dan pembunuhan atas nama agama. Sesungguhnya mereka juga tidak kenal Tuhan yang dimaksud. Kalau mereka kenal Tuhan, tidak akan seperti itu perilakunya. Itu orang-orang biadab.

Pada akhir zaman, banyak surga palsu yang dijanjikan, yang akan berakhir di neraka sesungguhnya. Itulah Dajjal. Dajjal menimbulkan petaka lebih dahsyat daripada setan. Mempesona di wajah dan lidah, tapi menghempas hati suci ke neraka paling ujung.

Untuk Azahra, jilbab itu soal hati. Jadi yang paling penting, jagalah hati, maka jilbabmu akan ikut. Tapi jangan berjilbab karena ingin tampil di pentas dunia. 


Hijab --istilah orang-- itu dasarnya ada di hati, pada ruh. Tapi ada dua hal yang perlu dicermati. Hijab sebagai filter, penyaring agar kita tidak berbuat hal-hal yang tidak baik. Namun kata "hijab" ini juga mesti dicermati dalam kajian ruhaniah manusia. 

Karena terlalu lama larut dalam kehidupan, manusia lupa bahwa hawa nafsu telah menjadi bagian dari praktik kehidupan keseharian. Nah, hawa nafsu inilah yang meng-hijab ruh kita dari pertemuan dengan Tuhan. Sehingga dalam sholat, Haji atau Umroh, tiada dapat kita bertemu Tuhan --tentu berarti kontak langsung. Berkali-kali Haji dan Umroh, yang tampak hanya Ka'bah secara syariat. Tuhan tiada bertemu, sehingga sulit diingat --termasuk dalam sholat. Kiswah, kelambu Ka'bah bukanlah benda suci, melainkan dibuat oleh tangan manusia, para pengrajin di Mesir dulu, kini di Arab Saudi. Jika tak paham hakikat, Kiswah berobah menjadi benda suci yang diincar orang saat Tawaf, alih-alih "mengincar" Rabbul Ka'bah yang seharusnya menjadi tujuan mereka. Hasrat menggebu untuk memeluk Kiswah telah menghijab kita dari bertemu Tuhan --sayangnya banyak yang terkecoh. 

Masalahnya, banyak yang ingkar atas perintah untuk belajar agama dengan mengkajinya, padahal itu Fardu Ain, tidak bisa diwakilkan pula.

Untuk Mahdani, alias “Sinyo”, jangan berbaju koko plus sorban hanya untuk foto sebagai calon pemimpin menjelang pemilu kelak. Jangan sumbar berkata kepada orang-orang bahwa kita menangis di atas sajadah, tapi tidak tahu di mana “tempat sujud” sebagai kiblat. Kita bukan siapa-siapa, melainkan orang-orang yang berikhtiar mencari jalan pulang yang benar. Dan jalan yang kita tempuh juga bukan jalan yang mudah, melainkan licin dan berliku, penuh serangan intrik hingga fitnah --bahkan percobaan pembunuhan terhadap Papa dengan cara-cara musyrik disebabkan iri dengki di hati manusia lain. Merekalah para penyembah berhala itu, mengaku bertuhan tapi meminta kekuatan dari "Tuhan" yang lain. 

Tapi musuh yang paling besar sesungguhnya berasal dari diri sendiri. Tapi ini kita bahas lain kali.

Secara keilmuan, bumi memang sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Sebentar-sebentar gempa. Percobaan nuklir tidak berhenti. Letupan di dalam yang menggeser lempeng-lempeng bumi sehingga menimbulkan tsunami di Aceh, kita sudah diberitahu beberapa hari sebelumnya. Juga gempa di Nias dan kekompakan letupan gunung-gunung. “Asap” alias virus yang keluar dari bumi dan akan mencekik jalan napas, juga Beliau beritahu hanya beberapa hari sebelumnya. Bahasa ilmiahnya Severed Acute Respiratory Syndrome, alias SARS. Dan berbagai virus lainnya yang tidak akan berhenti sampai akhir dunia. Hingga pesawat-pesawat yang jatuh. Dunia ini pasti binasa. Tapi, pertama, kita tidak tahu kapan. Kedua, bukan urusan kita. Jadi jangan pikir soal kiamat. Toh tak beda dengan kematian seseorang, yang berarti kiamat baginya. Bertahan di  sisa waktu. 

Hidup itu bukan soal panjang-pendeknya, tapi apa isi dan maknanya. 

Berjuang itu dengan keyakinan di hati kita, untuk membuat pilihan-pilihan hidup yang sesuai dengan perintah-Nya: "sami'na waata'na", “kami dengar kami taat”. Bukannya malah “sami'na waasoyna", "Kami dengar kami tantang.” Memang tidak mudah menaatinya. Perlu tekad bulat serta kekuatan hati yang jernih. Taat itu berat. Sementara dunia menggoda dan menarik kita kesana-kemari. Padahal, Tuhan yang Mahaesa itu hanya di satu tempat, Tempat Sujud yang Mulia. Jelaslah kiblat dan hakikat kita. Dan "seseorang" di kiblat itu yang mesti kita kenal. Jika tidak, "siapa" yang diingat saat sholat? Bagaimana kemudian kita bisa sholat, padahal diperintah untuk mengingat "Dia" dalam sholat?

Ingat baik-baik, Tuhan bukanlah judul sinetron, yang dipaksakan oleh para penghibur dan pesohor: "Tuhan ada di mana-mana." 

Karena itu berarti Tuhan ada pula di tempat-tempat maksiat dunia? Masyaallah! Berhentilah dengan senda gurau itu! 

Tuhan sudah membantahnya dalam berbagai ayat di dalam Qur'an, antara lain di Quraisy ayat 3: "Sembah oleh kamu akan Tuhan ini Rumah." Itu di Baitullah. Ada Tuhan di Rumah itu. Maka namanya Baitullah. Masyaallah: Kenapa sulit berpikir kesitu?

Tuhan ada di Baitullah, sedang kekuasaan Tuhan ada di mana-mana, pada ruh dan meliputi dunia besar, alam semesta secara fisik. 


Nah, negeri kita ini indah, tapi kita sendiri yang merusaknya. Padahal jelas negeri ini sangat istimewa, sejak dulu kala. Indonesia diproklamasikan pada hari Jum'at pula, tanggal 17. Setiap hari, kita sholat fardhu 17 raka'at pula. "Qur'an turun ke Bumi" 17 Ramadan. Perhatikan baik-baik posisi Ka'bah, simbol kiblat kita. Ada empat sudut; Iraqi, Syami, Yamani dan Hajar Aswad. Tapi Masing-masing mengarah ke negeri-negeri itu. Tapi berdirilah di sudut Hajar Aswad, di bawahnya ada garis coklat. Tariklah garis itu menjauh. Negeri mana yang di arahnya? Tidak susah, buka saja Google Earth. Maka Pancasila itu luar biasa. Tapi tak ada yang mampu mengurainya dalam kajian agama. Bahkan sebagai ideologi bernegara cenderung luntur. Blackberry, iPad, Tablet Android-pun kini bisa menyalipnya di tikungan. 


Mahdani & Azahra, ruh kita sama usianya, diciptakan bersamaan. Hanya masuk ke kandungan ibu yang berbeda. Dari situlah tercipta “umur dunia” yang singkat saja dan tidak kekal. Jadi ingatlah baik-baik kesaksian dan kejadian kita saat sama-sama berkumpul di situ, kita semua, para leluhur kita, para sahabat kita, di tempat berkumpul awal ruh, sebelum akhirnya masuk ke kandungan seorang perempuan, saat Tuhan bertanya, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Lalu masing-masing dari kita menjawab, “Ya, kami menjadi saksi, supaya jangan mengatakan pada hari kiamat: Sesungguhnya kami lengah terhadap perihal ini.” (QS 7:172). Hal itu memberi penekanan bahwa sesungguhnya umat manusia bersaudara, meski mereka dilahirkan dari ibu yang berbeda. Sehingga secara fisik di dunia, warna rambut, kulit hingga bentuk mata dan rahang serta ciri-ciri fisik kita berbeda.

Pegang teguhlah kesaksian itu. 

Mungkin kita atau keturunan kita akan menyaksikan gunung luluh. Air menghilang. Bumi ibarat karpet digulung lalu ditebar lagi dengan situasi baru --bumi ini adalah Padang Mashyar yang belum jadi. Kalau kita masih ada di situ, Beliau sudah bilang, biarlah jasad kita terkubur di antara puing dan reruntuhan. Yang penting ruh kita selamat. Semoga kita bisa ikut bersama rombongan yang berjalan selamat masuk ke sebuah tempat di Arays. Tidak keluar-keluar lagi. 

Selamat berjuang.  

Salam,
A Gener Wakulu

 

Catatan ini dibuat untuk “Sinyo” Mahdani & Azahra, juga saya dedikasikan untuk para sahabat. Pernah dipublikasikan pada 21 Juli 2009, dilengkapi pada 24 Agustus 2011. Mohon untuk tidak di-forward lagi.

Senin, 22 Agustus 2011

Crocodile Ranch at Asam Kubang, Medan



ASAM KUBANG CROCODILES
Medan have other treats are fantastic, which is a crocodile farm. Located in the village of Asam Kubang, 10 kilometers from Medan city center, this ranch store 2,800 alligators. Most of the estuarine crocodile, Crocodilus porosus. The remaining small are crocodiles with slimmer mouth, Sinyulung.

This ranch is located on Jl. Bunga Raya II. At the edge of the road, there is a billboard made of iron pictorial crocodile. A parking area is provided for visitors, where we then were in a porch that provides a little info about Asam Kubang crocodile. The porch is concurrently stalls selling food and soft drinks, souvenirs and the tickets go to the ranch. And also if we want to buy poultry for food or cost alligator attraction.

Once inside, we go through a small alley on the side where there are three small ponds containing the crocodiles who was sunbathing. In the third pond there is a crocodile own jet black about 4-5 meters in length, it is already more than 40 years. Parallel to the third pond before, there are other pools. Crocodiles who were aged 3-6 years seem fun sunbathing, an occasional bath. But there is also a pool that contains one adult crocodile tail stump, without a tail. Its back had been colored black. While on the crocodiles are still young, his back a mixture of yellow and black color.

In the center, there is again a row of swimming-pool containing the crocodiles are still relatively young, of various sizes. While on the back, there are many more pools. Being on one side there are large pages, where the birds and the monkeys kept in cages. The most interesting is on the opposite side, ie, a small bog lake, which is lined with walls and iron. It contained the crocodiles that have been mature, moving to and fro. Well, in this lake in the form of poultry feed to the crocodiles that can be used as attractions. Overall, the area of this crocodile farm is 2 hectares.

In addition, by paying an additional fee of Rp 50.000, - we can also enjoy attractions funny monkey who takes food from the mouths of crocodiles. First, a handler will issue a large crocodile from a pond. By pulling the tail and hugged his body, the crocodile subdued. Apparently the crocodile also knew that it was time it climbed the stage, resignedly put on a long wooden chair. The handler wipes crocodile until dry. Then, a baboon who had been released from his cage, though still wearing chains, will be lured to take food from the mouth of a crocodile.

The purpose of the handler is to open crocodile mouth, and then put a banana for the baboon to take it. Indeed they do, it happens, the baboon thrust his head into the crocodile's mouth and then took the bananas and licked it. While the crocodile silent resignation. The funny, in practice, sometimes the baboon who took the initiative to open jaws just as giving orders. And again the crocodile let it go.
Usually, at the end of the attraction, the handler ushered visitors who want to take pictures to go up to the back of a crocodile. Rare opportunity, but not many want to ...

Location: Captive breeding of crocodiles Asam Kubang, Jl. Bunga Raya II No. 59, Kubang Village, Kecamatan Medan Selayang, Medan.
Text & photographs: Gegen















Selasa, 09 Agustus 2011

Rp 3,2 Triliun dalam 10 Hari di IIMS 2011



 INDONESIA INTERNATIONAL MOTOR SHOW
Secara statistik, pameran mobil terbesar di Indonesia ini mencatat beberapa kemajuan, dari segi pengunjung, peserta pameran dan nilai transaksi. Hanya, kesesuaian tema dengan mobil-mobil yang dipamerkan masih kurang gregetnya.


Untuk ke-19 kalinya pameran otomotif nasional ini kembali digelar 22-31 Juli 2011. Kali ini sudah bernama Indonesian International Motor Show, bertempat di Jakarta International Expo (JIE) Kemayoran, Jakarta. Pada awal pameran, sejumlah statistik dibeberkan oleh kalangan pemerintahan yang kemudian dihubungkan perkembangan dunia otomotif nasional. Misalnya pIndonesia dalam kacamata optimistik bisa menjadi yang terbesar mengalahkan Thailand dalam industri otomotif, kata Hatta Rajasa, Menko Perekonomian yang membuka pameran. Tahun 2011 ini, Indonesia berada pada posisi ke-2 dengan market share 30,6%, sementara Thailand 32%.ertumbuhan ekonomi 6,1% yang diprediksi menjadi 6,4% tahun ini, income per kapita US$ 3.500 hingga cadangan devisa US$ 120 miliar.



Indonesia dalam kacamata optimistik bisa menjadi yang terbesar mengalahkan Thailand dalam industri otomotif, kata Hatta Rajasa, Menko Perekonomian yang membuka pameran. Tahun 2011 ini, Indonesia berada pada posisi ke-2 dengan market share 30,6%, sementara Thailand 32%.



Statistik juga menyodorkan tercatat 32 APM (Agen Pemegang Merek) dan 227 industri pendukung otomotif ambil bagian di dalamnya. Jumlah ini meningkat dari 22 APM dan 181 industri pendukung pada tahun sebelumnya. Tema yang diangkat pada pameran IIMS tahun ini adalah “Sustainable Green Technology” atau teknologi hijau yang berkelanjutan, mencoba menunjukkan keseriusan industri otomotif dalam menjaga kelestarian alam.


Untuk media, Press Day dan VIP Day diselenggarakan pada Jum’at, 22 Juli. Ada beberapa catatan spesifik yang bisa disaksikan pengunjung kali ini. Pertama soal brand mobil yang ambil bagian, tercatat beberapa newcomer yang secara mencolok pertama kali disaksikan publik seperti MINI (di bawah bendera grup BMW) dan smart (bersama Mercedes-Benz ada di bawah payung Daimler AG) di Hall B. Lalu di Hall B ada warna baru dengan kehadiran Geely, manufaktur mobil yang progresif dari China dan Infiniti dari grup yang sama dengan Nissan.




Mayoritas APM menggelontorkan model atau varian baru seperti KIA All New Picanto, All New Sportage, The New Audi A6, Subaru Legacy 2.0i, The New Volkswagen Polo, All-New Ford Ranger. Grup Daimler AG memasang Mercedes-Benz C-class generasi terbaru, C-class Coupe baru dan smart nightorange. Sementara Geely tampak berusaha memasang model LC Cross menjadi ujung tombak pemasarannya dengan harga jual Rp 112 juta – 120 juta. Adapun Suzuki berusaha memperkokoh share-nya di pasar dengan meluncurkan SX4 RC1 yang tampil sportif. Sedang Mazda memperkenalkan Mazda8 dan MX5, meski penjualan masih dikuasai Mazda 2 di brand ini. Jeep sendiri memasarkan New Wrangler dan Grand Cherokee, bersamaan dengan Chrysler yang memasang Chrysler 300. Sementara Toyota, manufaktur mobil dengan share terbesar di pasar Indonesia menampilkan seluruh varian barunya untuk Camry, Altis, Vios, New Grand Fortuner, Avanza dan tentu saja meluncurkan Innova baru. Hyundai, tentu saja mengandalkan New Sonata yang keren itu.





Untuk mobil konsep, pengunjung dihibur dengan penampilan Toyota FT-86 Concept, Peugeot SXC, Infiniti Essence hingga Mitsubishi Global Small. Selaras dengan tema pameran, beberapa APM juga memboyong mobil ramah lingkungan. Misalnya KIA dengan Optima Hybrid. Selain KIA, tercatat Suzuki, Daihatsu, Toyota, Honda dan Geely juga tergolong APM yang konsisten menampilkan green cars secara nyata, meski sebenarnya konsep green secara substansif juga masuk ke dalam produk seperti smart dari Daimler AG misalnya. Namun rasanya secara keseluruhan tema “Sustainable Green Technology” kurang gregetnya. Padahal, IIMS rencana dijadikan rujukan pameran otomotif di Asia Tenggara.



Namun demikian, statistik juga memberi indikasi pertumbuhan pada pameran tahun ini. Setelah sepuluha hari digelar, tercatat 322.823 orang mengunjungi pameran ini. Transaksi, ata jumlah kendaraan yang terjual berjumlah 11.585 unit. Jika diuangkan, nilainya menjadi Rp 3.274.171.963.750. Jumlah ini melebihi nilai transaksi tahun lalu sebesar Rp 2,5 triliun. Pada gelaran tahun ini terdapat 32 brand APM (Agen Pemegang Merek) dan 227 peserta industri dan jasa lainnya.
Teks & foto: Gegen


Selasa, 02 Agustus 2011

Sisa Eksotika Pasar Terapung Muara Kuin


Di lobi Hotel Rattan Inn, tempat saya bermalam selama di Banjarmasin, terpampang foto pasar terapung Muara Kuin yang sudah lama saya dengar ingin lihat langsung. Foto itu begitu indah, dengan tata warna dan kontras yang menarik. Imajinasi saya langsung terkonstruksi dengan sebuah pengalaman baru yang akan saya alami. Dan keesokan paginya, persis azan subuh, saya sudah berada di sebuah dermaga perahu persis di depan mesjid Sultan Suriansyah –yang juga salah satu ikon bersejarah kota Banjarmasin. Nah, di dermaga depan mesjid itu kita bisa menyewa perahu bermotor temple untuk menuju pasar terapung Muara Kuin.


Kami menyewa perahu tersebut untuk kemudia menyusuri sungai kecil yang semakin melebar dan kemudian menemui sebuah ‘muara’. Tapi sebenarnya itu bukan muara, melainkan pertemuan dengan sungai Barito yang amat lebar. Hitung-hitung, lebih dari dua puluh menit kami menyusuri kegelapan sungai hingga tiba di lokasi yang dimaksud. Tapi memang, kami masih terlalu pagi tiba di situ, belum genap pukul lima, sehingga akhirnya kami tertidur di dalam perahu sambil menunggu rekahan pendar cahaya di langit muncul.



Setengah jam kemudian, titik-titik lampu yang bertebaran di sungai dan suara-suara semakin banyak terlihat dan terdengar. Aktivitas pasar dimulai. Jukung –perahu khas Banjar—demi jukung mulai berseliweran. Di dalam jukung, para lelaki dan ibu-ibu saling melakukan transaksi, meski kebanyakan para pedagang dan pembeli adalah kaum ibu. Yang diperdagangkan kebanyakan sayur dan buah.


Selain jukung yang menjual atau pembeli sayur dan buah, ada pula perahu yang menawarkan sarapan pagi, mulai dari kue-kue, nasi, kopi dan teh hingga soto Banjar. Jangan heran. Oh ya, untuk bisa menjangkau kue-kue di jukung warung, disediakan kayu dengan paku pada ujungnya untuk meraih-kue-kue tersebut. Semua transaksi ini bisa dibilang susut pada pukul tujuh pagi.


Selain para pedagang dan pembeli, pasar juga dipenuhi dengan perahu para wisatawan yang melihat-lihat pemandangan, menikmati makanan dan berfoto-foto. Hanya, saya merasa, apa yang saya dapati tidak seindah wallpaper yang saya lihat di lobi hotel. Foto itu memang dibuat beberapa tahun lalu. Baik tata warna, kejernihan, hingga suasana, memudar. Pemilik perahu yang kami sewa juga mengatakan, bahwa jukung yang ada di pasar ini kini telah susut. Mungkin pasar terapung Muara Kuin sedang menuju kepunahan, dan kelak menyisakan kekecewaan bagi wisatawan yang punya harapan tinggi akan eksotisme pasar terapung tradisional.


Ya, jalan-jalan di darat sudah mulai banyak dibangun, peran sungai berkurang, jukung-jukung menyusut.
Teks: Gegen
Foto: Yusuf Achmad, Gegen




Legenda dari Pasar Bunga Rawa Belong



PASAR BUNGA RAWA BELONG
Pusat transaksi bunga skala besar ini memasok sentra-sentra bunga dan daun potong di Jakarta. Legenda Betawi, Si Pitung, berasal dari sini.


Hari sudah terang, tapi matahari belum muncul menerpa, belum menimbulkan bayang-bayang dari manusia dan bangunan. Di sisi barat Jakarta, kesibukan di pasar kembang Rawa Belong terus terjadi, mungkin telah melewati “titik kulminasi”nya, karena aktivitas tinggi di pasar ini terjadi antara pukul 03 dini hari hingga tujuh pagi. Pukul enam pagi itu, dua orang wanita berusia 30-an tampak sibuk tawar-menawar soal seikat mawar putih di dalam gedung pasar. Mereka mencari bunga-bunga untuk menghiasi rumah dalam rangka acara keluarganya. Sang penjual berupaya menawarkan tidak saja mawar putih, tapi juga bunga lain yang dijajakannya.
Begitulah kira-kira suasana di sentra perdagangan bunga potong untuk hias di Rawa Belong –boleh dibilang yang terbesar di Jakarta. 

Pasar Rawa Belong adalah pusat pasar kembang terbesar di Jakarta. Pasar ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1974, namun baru diresmikan tahun 1984 oleh Gubernur DKI Wiyogo Atmodarminto saat itu. Boleh dikata, semua sentra bunga potong di Jakarta membeli dari pasar ini. Jadi memang cenderung partai besar. Namun bila kita membeli eceran pun tak masalah, para penjual di sini dengan senang hati menawarkan.

Penampilan pasar bunga Rawa Belong sendiri sudah berbeda sejak diresmikan pada 25 Juli 1989. Kini ada dua gedung pasar modern yang bertaut dengan nama Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias, Dinas Kehutanan dan Kelautan DKI Jakarta, serta gedung Pusat Promosi dan Pemasaran Hasil Pertanian dan Hasil Hutan. Di gedung pertama kita akan temui berbagai jenis bunga, baik yang di bagian dalam maupun kios-kios di luarnya. Di dalam banyak kita temui bunga-bunga seperti mawar dan anggrek, baik yang digantung-gantung maupun dalam ember-ember besar. Jenis-jenis anggrek yang dijual di sini antara lain anggrek Srikandi, Dendrobium Sp, Vanda Douglas, James Storie, Maggie Oie, Golden Shower, Cattleya hingga anggrek bulan (Phalaenopsis).




Sedang bunga-bunga lainnya juga bertebaran, baik bunga gunung ataupun bunga daerah dingin seperti krisan, anyelir, carnation, mawar, melati, lili, aster, soka hingga sedap malam.

Sedangkan di gedung sebelahnya bisa kita temui berbagai tanaman hias dan daun potong seperti pakis gunung, phillodendrom, florida beauty, andong, palem kuning, asparagus hingga sirih gading yang kerap kita jumpai bila ada acara-acara seperti pernikahan di gedung-gedung. Di sini juga dijumpai bunga-bunga besar seperti bunga matahari, sekaligus berbagai bingkai, pot dan perlengkapan hiasan bunga dan tanaman di gedung-gedung. Di sini juga dijual beraneka bunga rampai yang terdiri dari melati, kenanga, cempaka, pihong, mawar tabur, pandan iris, sirih, pinang hingga air mawar botol. Untuk harga bisa bervariasi, tapi disarankan tawar-menawar.

Lokasi pasar bunga Rawa Belong sendiri ada didaerah Kemanggisan, Jakarta Barat. Konon, menurut hikayat, tokoh legendaris Si Pitung adalah warga Rawa Belong. Tidak sulit mencapai pasar ini, yang paling mudah adalah dari Bunderan Slipi di depan gedung Jakarta Design Center (JDC). Baik Anda menggunakan mobil pribadi atau kendaraan umum, yang paling mudah adalah mengikuti rute Mikrolet M-11 rute Tanah Abang menuju arah Meruya. Tiba di jalan Rawa Belong, Anda akan mendapati jalan Sulaiman di sebelah kiri, itulah jalan menuju pasar bunga Rawa Belong yang tidak jauh lagi.

Selamat berburu bunga.
Teks & foto: Gegen

Senin, 01 Agustus 2011

Danau dan Pantai di Kolaka Utara





Lansekap Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara boleh dibilang lengkap, memiliki kawasan dataran tinggi hingga pantai-pantai. Kondisi itu memengaruhi pula karakter wisata kabupaten ini yang bertumpu pada wisata alam. Salah satunya adalah Danau Biru yang terletak di Desa Walasio, Kecamatan Rante Angin, 12 km dari obyek wisata Tamborasi. Objek wisata di kaki gunung ini dikelilingi oleh batu dan pohon-pohon. Sekitar 12 meter di bawahnya, membentang pasir putih sepanjang 2 kilometer. Danau Biru mengalirkan air melalui celah-celah batu gunung itu ke pinggir pantai. Pengunjung bisa berendam dan berenang di sini.




Selain itu ada pula pantai Pasir Putih di Kecamatan Tolala. Namun untuk mencapainya tidak mudah. Kami berkendara dengan mobil selama empat jam ke arah utara hingga nyaris mencapai perbatasan Sultra yang menuju ke Malili, Sulsel, tepatnya sekitar 20 km menjelang perbatasan. Di situ terdapat Desa Bahari –yang belum memiliki listrik jaringan listrik. Penerangan pada malam hari diperoleh dari listrik yang berasal dari generator. Jangan berharap banyak soal telekomunikasi, tidak ada sinyal ponsel di sini. Di beberapa rumah makan di desa ini kerap kita temui mobil-mobil pengunjung bernomor polisi Sulsel.







Desa ini punya sebuah dermaga, di mana kami menumpang sebuah perahu bermotor yang membawa ke sebuah tujuan wisata yang disebut  pantai Pasir Putih. Perlu waktu setidaknya 25 menit membelah air laut yang jernih, menyusuri bibir pantai dengan bukit-bukit indah untuk bisa sampai ke lokasi ini.
Di pantai berpasir putih yang amat halus seperti tepung itu terdapat sebuah goa. Pemkab Kolaka Utara berencana menjadikan goa ini cagar budaya karena nilai historisnya. Dari pantai ini kita bisa menikmati pemandangan Teluk Bone di barat, matahari terbenam, teluk-teluk dan pulau-pulau kecil di perairan yang jernih itu.
Teks & foto: Gegen