Senin, 19 September 2011

Kisah Pilu di Balik Puncak Emas Monas


MONUMEN NASIONAL (MONAS) JAKARTA
Monas adalah salah satu bisu sejarah Indonesia. Bersamanya tersimpan kenangan, ironi hingga penderitaan.

Gampang saja mengenal aparat pemerintah daerah DKI Jakarta. Lihat saja emblem di seragam mereka. Sebuah gambar tugu terpampang di situ. Itulah Monumen Nasional, yang kondang disebut “Monas”. Monumen untuk mengenang perlawanan dan perjuang rakyat Indonesia melawan penjajahan Belanda. Luas lapangan Monas sendiri 80 hektar, di mana di tengah-tengahnya monument dibangun –resminya Agustus 1959. Adapun arsiteknya adalah Soedarsono dan Frederich Silaban. Pada 17 Agustus 1961 Presiden Soekarno meresmikan Monas. Namun Monas baru dibukan untuk umum pada 12 Juli 1975.

Julang tinggi Tugu Monas melambangkan Lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Sementara pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia. Lapangan Monas sendiri lima kali berganti nama, mulai dari Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan lalu Taman Monas.

Tugus Monas sendiri sangat strategis dan boleh dibilang kini adalah hiposentrum DKI Jakarta. Berbagai bangunan stategis ada di sekitar Monas. Ya, Monas dikelilingi empat jalan besar, yakni Medan Merdeka. Di utara adalah Medan Merdeka Utara, dimana terdapat Istana Merdeka hingga Departemen Dalam Negeri; lalu Medan Merdeka Barat tempat gedung-gedung Mahkamah Konstitusi, Departemen Hankam, Menkominfo, hingga Budaya dan Pariwisata. Sementara di Medan Merdeka Selatan terdapat Istana Wakil Presiden RI, Balaikota DKI dan Lemhanas; sedang di Medan Merdeka Timur terdapat Stasiun Gambir. 

Ada catatan dalam sejarah pembangunan Monas, yakni sumbangan dari berbagai negara hingga tugu tersebut bisa berdiri tegak. Jepang menyumbang kerangka besi, lidah api, lift dan tangga. Italia menyumbang marmer, pagar keamanan di pucak tugu, Patung diponegoro, Domes dan kaca diorama. Jerman Barat menyumbang instalasi listrik, interior serta sistem audio. Sedang Prancis menyumbang konstruksi beton.

Untuk memasuki Monas, pintunya berada di kawasan utara Taman Monas, di mana terdapat air mancur dan patung Pangeran Diponegoro. Di bawahnya ada lorong bawah tanah menerobos jalan Silang Monas menuju pelataran Tugu Monas. Di dalam Tugu Monas terdapat ruang Museum Sejarah seluas 80x80 meter persegi setinggi 8 meter yang terletak 3 meter di bawah tanah. Kemudian ada Ruang Kemerdekaan pada bagian cawan berbentuk amphitheater tertutup. Di ruangan ini pengunjung dapat mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pembacaan Teks Proklamasi oleh Bung Karno. Ya, pada sisi baratnya terdapat peti kaca tempat menyimpan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.


Lalu, berapa tinggi Monas? 132 meter. Ada apa di puncaknya? Lidah api berlapis emas. Ya, lidah api itu dilapis emas seberat 38 kg. Tapi tak banyak yang tahu, 28 kg emas diantaranya disumbang oleh Teuku Markam, saudagar Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Teuku Markam punya reputasi baik dalam memajukan perekonomian Indonesia pada zaman Soekarno. Namun seiring pergantian rezim, Markam runtuh, dituduh dengan berbagai hal; PKI, Soekarnois hingga korupsi. Tapi Markam tidak pernah diadili, melainkan langsung dijebloskan ke penjara di Jakarta tahun 1966. Aset-aset PT Karkam milik Markam diambilalih pemerintah tahun itu juga. Tahun 1974 Markam dilepas begitu saja, tanpa kompensasi apapun, ia juga saat itu tidak akan menuntut apa-apa dari pemerintahan Orba. Pada tahun yang sama, Presiden Soeharto menerbitkan Keppres No. 31 Tahun 1974 yang antara lain menegaskan bahwa status harta kekayaan eks-PT Karkam/PT Aslam/PT Sinar Pagi yang diambilalih Pemerintah RI tahun 1966 berstatus “pinjaman” sebagai penyertaan modal negara di PT PP Berdikari..

Namun pada zaman Orba toh Teuku Markam masih berusaha membangun Indonesia, terlibat dalam pembangunan infrastruktur di Jawa Barat dan Aceh yang dibiayai Bank Dunia, seperti jalan raya Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, hingga Meulaboh dan Tapaktuan –proyek-proyek yang tidak mau diresmikan pemerintahan Soeharto. Hingga meninggal dunia pada tahun 1985 nama Teuku Markam tidak pernah direhabilitasi.

Jadi, emas di puncak Tugu Monas yang jadi simbol peradaban Indonesia itu ternyata disumbang oleh seorang saudagar Aceh yang namanya tidak pernah direhabilitasi hingga kini.
Teks & foto: Gegen

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar